June 4, 2023
judi bola online

Salah satunya narasi paling besar sepanjang penyelenggaraan Premier League adalah kesuksesan Leicester City raih titel juara musim 2015/2016. Di tengah-tengah ketatnya kompetisi team big six, Leicester mendadak ada bawa surprise.

Dibalik gabungan pemain yang hebat, disimpan seorang pakar yang atur strategi dari kesuksesan itu. Ia ialah pelatih berasal dari Italia yang namanya Claudio Ranieri, otak dibalik semua.

sebelum lanjut ke artikel, kalian wajib cobain judi bola online di Mantap168, karna banyak keuntungan nya loh, selain kalian dapat penghasilan dengan hanya bermain game, kalian juga dapat menikmati bonus menarik setiap harinya, dan kalian bisa bermain game seru dimanapun dan kapanpun.

Sebuah narasi menarik saat Ranieri selalu berikan motivasi beberapa pemainnya lewat sebuah pizza yang dijajakan tiap akhir laga. Bagaimana ceritanya? Baca ceritanya berikut, cek this out!

1. Leicester City saat sebelum 2015

Penahbisan Leicester City sebagai juara Premier League musim 2015/2016 ialah sebuah dongeng besar yang susah dipercayai seperti dongeng Cinderella. Masalahnya sedikit yang mengenali mereka awalnya.

Leicester yang dahulu cuma dipandang seperti team medioker seringkali bergelut di papan bawah klassemen atau Seksi Championship. Asumsi itu dapat disebutkan seutuhnya betul karena saat sebelum mereka memenangi titel juara Premier League musim 2015/2016, prestasi paling besar mereka cuma mentok di Piala Liga. Itu juga terjadi 15 tahun saat sebelum mereka juara pada musim itu.

2. Dua musim saat sebelum mendominasi Premier League

Keperkasaan mereka pada musim 2015/2016 seperti sebuah fenomena dan kebenaran yang jadi berlanjut. Kemungkinan tidak ada yang menduga beberapa nama yang asing saat itu, seperti Wes Morgan, Jamie Vardy, Riyad Mahrez, N’Golo Kante, atau Danny Drinkwater menjadi tulang punggung team dan bawa Leicester juara Premier League.

Walau sebenarnya, 2 musim awalnya, Leicester sebagai peserta Seksi Championship atau kelas ke-2  Liga Inggris. Tetapi, pada tahun tersebut mereka sukses juara dan promo ke Premier League. Dengan status sebagai juara Championship musim 2013/2014, mereka tidak mau tiba sebagai team pendamping persaingan saja. Mereka ingin diakui sebagai pesaing untuk team-team juara.

3. Kehadiran The Tinkerman

Pada musim pertama kalinya sebagai team promo, performa Leicester City memang biasa-biasa saja seperti sebuah team medioker. Mereka cuma sanggup finis pada posisi ke-14 di klassemen akhir Premier League musim 2014/2015. Sebuah hal yang tidak mengagetkan.

Tetapi, pada awal musim 2015/2016, management Leicester lakukan sebuah peralihan dengan menunjuk Claudio Ranieri untuk gantikan Nigel Pearson yang tidak dapat melewati harapan. Sebuah inovasi yang tepat ingat pelatih berjulukan The Tinkerman ini telah kenyang pengalaman. Juventus, Valencia, dan Chelsea ialah beberapa team yang dulu pernah Ranieri latih awalnya.

Tetapi, sebagai sebuah catatan, Claudio Ranieri sebagai pelatih yang hoby bergonta-ganti strategi dan kerap memaksa keadaan pemain untuk selalu lari. Tidaklah aneh bila team yang dia latih sering turun-naik dan pemain yang dia asuh sering alami luka.

4. Pakem skema 4-4-2

Ranieri sudah lama berpengalaman di sepak bola Eropa. Tidaklah aneh bila dia memahami dalam perlakukan pemain-pemainnya supaya bisa klop dengan strateginya. Saat menginisiatif Leicester, Ranieri memakai pakem skema classic, yaitu 4-4-2.

Dengan menyesuaikan peranan tiap pemain, Ranieri sukses membuat pola serang yang mengerikan dan baris pertahanan yang kuat lewat skema itu. Bisa dibuktikan dengan akurnya N’Golo Kante dan Danny Drinkwater di baris tengah, gesitnya Riyad Mahrez di baris sayap, dan tajamnya seorang Jamie Vardy di baris serang. Leicester benar-benar ditakutkan pada musim itu.

5. Magic dari sepotong pizza

Selainnya strateginya yang tepat, Ranieri sukses berikan motivasi beberapa pemainnya dengan langkah yang unik. Salah satunya langkah yang dia kerjakan adalah lewat sebuah pizza. Ranieri janji akan membayari pizza untuk beberapa pemain Leicester jika Leicester raih clean sheet pada sebuah laga. Sebetulnya, apakah yang sudah dilakukan Ranieri pada Leicester ini ialah sebuah bukti kecerdasan dalam mengurus sebuah team dan menjadikan lebih menggembirakan.

Dengan bujukan itu, beberapa pemain Leicester pada akhirnya terpacu saat menjalankan tiap laga. Dengan beda 10 point dari Arsenal yang ada di urutan ke-2, Leicester pada akhirnya tutup musim dengan perolehan piala Premier League pertama kalinya semenjak berdiri di tahun 1884.

6. Akhir yang jelek untuk Ranieri

Tetapi, kurang dari satu tahun sesudah bawa Leicester City juara, Ranieri harus dikeluarkan. Argumennya masih simpang-siur. Ada yang memandang jika argumen dikeluarkannya Ranieri karena perform Leicester pada musim 2016/2017 yang turun mencolok dan memberikan ancaman kehadiran Leicester City di Premier League. Ada juga yang mengatakan jika permasalahan intern dengan beberapa pemain senior di tim Leicester membuat dianya harus pergi dari King Power Fase. Sebuah ironi dibalik kesuksesannya.

Tetapi, minimal gelar yang didapatkan oleh Leicester dan Claudio Ranieri pada musim 2015/2016 ialah tiang awalnya peralihan langkah pandang fans sepak bola pada The Foxes yang dikenali kuat seperti sekarang ini.

Dengan jasa besarnya, Ranieri seakan-akan memberikan sebuah legacy untuk Leicester hingga jadi daya magnet lebih beberapa pesepak bola dunia untuk tergabung dengan club dengan logo kepala ubah ini. Bagaimana menurutmu?

Gabung sekarang juga di mantap168, agen judi bola terbesar dan terpercaya, juga tersedia berbagai game lainnya yang pastinya menarik dan seru untuk dimainkan juga terdapat bonus bonus yang bisa kalian dapatkan setiap harinya, gabung sekarang juga, dan nikmati keuntungan serta bonusnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *